Kamis, 09 Februari 2012

Analisis Cerpen


 GURU
Karya Putu Wijaya


1.1 Sinopsis

            Cerpen ini menceritakan tentang sesosok anak yang ingin menjadi guru, tetapi mengalami beberapa hambatan dalam mencapai cita-cita yang diinginkan. Anak itu bernama Taksu, yang merupakan anak tunggal dan harus mengikuti semua keinginnan orang tuanya. Tetapi ia tetap ingin mempertahankan cita-cita yang diinginkannya sebagai seorang guru. Sesuai dengan kutipan dalam cerpen tersebut “ karena guru tidak bisa dibunuh, jasadnya mungkin saja busuk lalu lenyap, tetapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi bahkan bertumbuh, berkembang, dan memberi a inspirasi pada generasi di masa yang akan datang.’’ Kata – kata itulah yang menjadi motivasi Taksu untuk tetap bertahan mencapai cita – citanya, bahkan dia berkata seperti itu karena 28 tahun yang lalu ayahnya yang dulu memberi nasihat untuk menghargai jasa guru  ketika ia malas belajar. Tetapi semua itu hanya sebuah ucapan belaka untuk orang tuanya, karena orang tuanya mengikuti perkembangan zaman dan orang tuanya berfikir bahwa guru hanya sebuah cita-cita yang sepele dan rendah di mata kedua orang tuanya. Orang tuanya pun membujuknya untuk mengikuti nasihatnya yang ia inginkan. Oleh karena itu, orang tuanya membujuknya dengan beberapa cara memberikan barang-barang mewah. Walaupun dengan beberapa cara, Taksu tetap mempertahan cita-cita yang ia inginkan. Kepribadian yang kokoh itulah yang memacu semangatnya.
            10 tahun berlalu dan kini, Taksu pun menjadi seorang guru tetapi bukan guru sembarang guru tetapi guru bagi para pegawainya ( yang mencapai hingga 10.000 ) dan generasi lainnya. Ia kini menjadi seorang pengusaha sukses, bahkan ia pun mendapatkan gelar doktor honoris causa. Serta orang tuanya pun menyadarinya bahwa Taksu kini sudah menggantikan hidup beban orang tuanya.



1.2 Unsur Instrinsik
1.2.1 Tema
Perbedaan dalam mengartikan guru
         Tema tersebut menceritakan suatu kesalahpahaman orang tua terhadap cita–cita yang diinginkan oleh anaknya, sehingga terjadi perbedaan dalam mengartikan “guru”. Cerpen ini  sesuai dengan pemikiran Putu Wijaya yang mengangkat kisah kehidupan tetapi tidak pernah detail dan sulit untuk di tebak alur ceritanya.
1.2.2 Alur
Campuran ( melingkar )
Putu wijaya menggambarkan cerpen Guru dengan alur campuran ( melingkar ), terlihat sekali dalam cerpen tersebut Putu Wijaya selalu mengulang-ngulang kembali latar dialog antara taksu dengan ayahnya walaupun ada perbedaan pembicaraan tetapi masih tetap membicarakan hal yang sama. Terlihat jelas dalam kutipan “Bukan hanya satu bulan tetapi dua bulan kemudian, kami berdua datang lagi mengunjungi taksu di tempat kosnya dan saya sendiri membawa laptop baru tak hanya itu saja terlihat juga adanya pengulangan dalam cerpen tersebut dalam kutip tigta bulan kemudian saya datang lagi ke kosan taksu dengan membawa kunci mobil mewah.”
1.2.3 Sudut Pandang
Sudut pandang orang pertama
Pengarang sebagai diceritakan sebagai tokoh ayah karena dalam cerpen tersebut menggunakan kata “saya”, dalam artian bahwa pengarang juga ikut berperan walaupun tidak terlalu jelas.
1.2.4 Latar
Tokoh dalam cerpen tersebut lebih banyak berdialog di tempat kostan Taksu, tetapi secara tidak langsung latar cerpen tersebut berada di rumah. Sesuai dengan kutipan “tanpa menunggu jawaban, lalu saya pulang. Saya ceritakan kepada istri saya apa yang sudah saya lakukan. Saya kira saya akan mendapat pujian tetapi istri saya bengong.” Selain itu, cerpen itu juga menceritakan tentang kehidupan kota dan suasananya berada dalam eramilineum ketiga, sesuai dengan awal pembicaraan antara ayah dan Taksu pada awal cerpen
1.2.5 Tokoh
Taksu, Ayah, dan Ibu
1.2.6 Penokohan
Ayah sebagai pencerita, Ibu sebagai  seorang ibu atau istri, Taksu sebagai seorang anak.
1.2.7 Perwatakan:
Ayah dalam cerpen Guru memiliki sifat keras dan pemarah terlihat dalam kutipan cerpen tersebut “kalau kamu tetap saja menjadi guru, aku bunuh kau sekarang juga!!!”. Selain itu, ayah juga memiliki sifat yang suka meremehkan suatu profesi. Terlihat sekali pada kutipan cerpen Guru “Profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos jalan pun kurang”. Tidak hanya itu saja “ Semua guru itu dilnya jadi guru hanya terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja.”
Putu wijaya juga menceritakan tokoh ibu sebagai wanita yang keras tetapi penyayang, sangat terlihat sekali dalam kutipan cerpen tersebut “Taksu! Kamu mau jadi guru pasti karena kamu terpengaruh oleh puji-pujian orang –orang pada guru itu ya?? Mentang-mentang mereka bilang, guru pahlawan, guru itu berbakti nusa dan bangsa.” Putu Wijaya juga ingin menceritakan bahwa dalam sifat kerasnya ibu masih ada rasa sayang ibu kepada anaknya. “Bapak terlalu! jangan perlakukan anakmu seperti itu!” teriak istri saya. “ Ayo kembali! serahkan kunci mobil itu pada Taksu!.”
Sedangkan Taksu dalam cerpen Guru digambarkan sebagai pemuda yang teguh pendiriannya. Terlihat sekali pada kutipan cerpen tersebut “ Saya sudah bilang saya ingin jadi guru, kok tanya lagi, Pak” katanya sama sekali tanpa berdosa. Selain kutipan tersebut, ada satu kutipan yang mempertegas sifat Taksu yang teguh pendiriannya. “Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja  busuk lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh, berkembang, dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yang akan datang. Guru tidak bisa mati, Pak.” Selain memiliki sikap teguh pendirian, Putu Wijaya juga ingin menggambarkan Taksu sebagai sosok pemuda yang penyabar. “Terima kasih, Pak. Bapak sudah memperhatikan saya.  
1.2.8 Amanat:
- Berpikirlah tenang dan positif dalam menyikapi segala permasalahan dalam kehidupan.
-  Sebagai orang tua, tidak boleh memaksakan kehendak kepada anaknya.
- Jangan menilai sesuatu dengan materi (uang), tetapi nilailah dengan ketulusan dan kesabaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar